![]()
Dalam dunia yang penuh dengan orang yang berpasangan ini, tentu tak ada satu pun yang ingin melajang. Konon, menjadi single, lajang atau jomblo sangat dihindari terutama oleh perempuan. Selain kerap dituding tidak laku, di jaman sekarang orang yang masih terus melajang juga dicurigai memiliki penyimpangan seksual. Duh repot. Lantas kalau kita masih juga menjomblo, apakah kita tidak bisa menikmati hidup dengan bahagia?
Menurut psikolog Ratih Ibrahim, setiap orang berhak untuk memilih menjadi lajang, bahkan untuk perempuan sekalipun. “Apapun alasannya, sah-sah saja bagi setiap orang untuk menjalani hidupnya sebagai seorang lajang. Yang jelas, menjomblo itu bukan kesalahan,” paparnya dalam acara Arisan Senin Citra beberapa waktu lalu di Jakarta.
Ditambahkan oleh Ratih, sejak pertengahan tahun 1990-an, kecenderungan perempuan untuk menikah di atas usia 30 tahun semakin besar. Alasannya pun beragam, ada yang karena ingin mengejar karir, karena belum ketemu pasangan yang cocok atau karena sulit mencari pasangan yang setara karena tingkat pendidikan yang tinggi.
Pekerjaan dan pergaulan hidup di kota besar umumnya mendukung kehidupan seorang lajang. Berbagai fasilitas hiburan yang tersedia pun tak kalah menyenangkannya untuk dinikmati sehinggi tidak ada lagi cerita seorang jomblo merasa kesepian. Lalu, apakah seorang lajang akan menjadi lajang selamanya karena terlanjur menikmati gaya hidup saat ini?
“Semuanya terpulang kepada yang bersangkutan. Jika suatu hari ia memutuskan untuk menghentikan masa lajangnya kenapa tidak?,” ujar Ratih. Ketika seseorang memutuskan untuk melajang, tentu ia telah melewati proses perenungan. Maka ketika seseorang sudah menemukan calon pasangan hidup yang sesuai, tentu ini juga dilakukan secara hati-hati. “Setiap orang berhak melakukan perubahan dalam hidupnya,” tambah psikolog yang menjadi pemerhati masalah perempuan ini.
Masalahnya adalah bagaimana jika kita tidak juga bertemu pangeran impian? Haruskah kita menunggu sementara keluarga dan teman-teman begitu sibuk menjodohkan kita dengan sederet pria? “Kita bisa tetap fokus pada hidup kita dengan cara menata pikiran kita, berpikiran positif, sehingga upaya dan omongan orang lain tidak sampai mengganggu hidup kita,” saran Ratih.
Senada dengan Ratih, Erni Kartasasmita, senior brand manager Citra mengatakan bahwa apapun keadaan seseorang, mereka berhak untuk merasa bahagia dalam hidupnya. “Di tengah masalah berat yang dihadapi, perempuan perlu mengetahui hal-hal yang bisa membuat dirinya menjadi berharga dan berkualitas, misalnya dengan menata emosi dan melakukan perawatan kulit dan tubuh” katanya.
Ditambahkan oleh Ratih, tidak ada batasan usia kapan seseorang harus menikah. “Kalau targetnya menikah untuk punya anak, perempuan hanya subur sampai usia 35 tahun. Namun memangnya kita menikah hanya untuk punya anak? Kita menikah untuk bersama-sama pasangan yang cocok dan kita akan tumbuh bersama , berbagi dan menjalani hidup selama-lamanya sampai the end, itu kan menikah umur berapapun bisa,” katanya.
sumber http://kompas.com/
