Melajang, Siapa Takut?

•Mei 28, 2007 • 4 Komentar

happyinthebeach.jpg

Dalam dunia yang penuh dengan orang yang berpasangan ini, tentu tak ada satu pun yang ingin melajang. Konon, menjadi single, lajang atau jomblo sangat dihindari terutama oleh perempuan. Selain kerap dituding tidak laku, di jaman sekarang orang yang masih terus melajang juga dicurigai memiliki penyimpangan seksual. Duh repot. Lantas kalau kita masih juga menjomblo, apakah kita tidak bisa menikmati hidup dengan bahagia?

Menurut psikolog Ratih Ibrahim, setiap orang berhak untuk memilih menjadi lajang, bahkan untuk perempuan sekalipun. “Apapun alasannya, sah-sah saja bagi setiap orang untuk menjalani hidupnya sebagai seorang lajang. Yang jelas, menjomblo itu bukan kesalahan,” paparnya dalam acara Arisan Senin Citra beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ditambahkan oleh Ratih, sejak pertengahan tahun 1990-an, kecenderungan perempuan untuk menikah di atas usia 30 tahun semakin besar. Alasannya pun beragam, ada yang karena ingin mengejar karir, karena belum ketemu pasangan yang cocok atau karena sulit mencari pasangan yang setara karena tingkat pendidikan yang tinggi.

Pekerjaan dan pergaulan hidup di kota besar umumnya mendukung kehidupan seorang lajang. Berbagai fasilitas hiburan yang tersedia pun tak kalah menyenangkannya untuk dinikmati sehinggi tidak ada lagi cerita seorang jomblo merasa kesepian. Lalu, apakah seorang lajang akan menjadi lajang selamanya karena terlanjur menikmati gaya hidup saat ini?

“Semuanya terpulang kepada yang bersangkutan. Jika suatu hari ia memutuskan untuk menghentikan masa lajangnya kenapa tidak?,” ujar Ratih. Ketika seseorang memutuskan untuk melajang, tentu ia telah melewati proses perenungan. Maka ketika seseorang sudah menemukan calon pasangan hidup yang sesuai, tentu ini juga dilakukan secara hati-hati. “Setiap orang berhak melakukan perubahan dalam hidupnya,” tambah psikolog yang menjadi pemerhati masalah perempuan ini.

Masalahnya adalah bagaimana jika kita tidak juga bertemu pangeran impian? Haruskah kita menunggu sementara keluarga dan teman-teman begitu sibuk menjodohkan kita dengan sederet pria? “Kita bisa tetap fokus pada hidup kita dengan cara menata pikiran kita, berpikiran positif, sehingga upaya dan omongan orang lain tidak sampai mengganggu hidup kita,” saran Ratih.

Senada dengan Ratih, Erni Kartasasmita, senior brand manager Citra mengatakan bahwa apapun keadaan seseorang, mereka berhak untuk merasa bahagia dalam hidupnya. “Di tengah masalah berat yang dihadapi, perempuan perlu mengetahui hal-hal yang bisa membuat dirinya menjadi berharga dan berkualitas, misalnya dengan menata emosi dan melakukan perawatan kulit dan tubuh” katanya.

Ditambahkan oleh Ratih, tidak ada batasan usia kapan seseorang harus menikah. “Kalau targetnya menikah untuk punya anak, perempuan hanya subur sampai usia 35 tahun. Namun memangnya kita menikah hanya untuk punya anak? Kita menikah untuk bersama-sama pasangan yang cocok dan kita akan tumbuh bersama , berbagi dan menjalani hidup selama-lamanya sampai the end, itu kan menikah umur berapapun bisa,” katanya.
sumber http://kompas.com/

Bapak penjual Gula

•Mei 11, 2007 • 3 Komentar

Di daerah Widodaren mo ke lautan pasir Bromo, terlihat anomali..klutik..klutik ada bapak-bapak sekitar 40 tahunan berjalan dari desa ga’ jelas dimana, yang jelas dia berjalan dari desanya lewat lautan pasir, trus ke desa gerbang masuk tengger..lalu ke kota malang. Dan! dia berjalan, hendak berjalan sampai ke desa gerbang masuk tengger . Kau tahu sobat dia sodara kita, dia rela berjalan sekian jauh hanya untuk menjual beberapa kilo gula demi anak dan istrinya dirumah.

Sobat..dia sodara kita. Relakah kau membeli gula begitu murah?, Relakah kau membeli gula import dari negeri seberang?, ingat sobat dibalik penderitaanmu masih banyak orang yang dapat menikmati indahnya ujian dari Tuhan, yang aku tangkap dari sodara kita,ia adalah bapak yang tangguh dan kuat menjalani hidup.

Sobat Sejati..

•Mei 11, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Semua orang yang kutahu

tak tahu sesungguhnya aku

Setiap ku jumpa seseorang

kukenakan wajah yang ia suka

Hanya seorang yang ku jumpa

yang mengetahui kebenarannya

dan semua yang selalu ku takutkan

tak lagi berkelanjut

Ia tak membenciku

meski ia tau siapa aku

Aku bukan ancaman baginya

Dicintainya kepribadianku

Kala kami bertemu takutnya sama dengan takutku

mimpinya sama dengan mimpiku

Tapi…

Masihkah dirimu bisa bermimpi,

seperti diriku

Bisakah dirimu takut,

setakut diriku

Aku tak peduli.

Aku!

•Mei 11, 2007 • 1 Komentar

Menyelam seperti ikan di air aku bisa

Terbang seperti burung aku bisa

Duduk diatas bulan sabit aku bisa

Dan kuawasi berputarnya dunia

Aku sang Gunung dan aku Samudera

Aku adalah aku yang kudamba

Aku adalah Futuh sang Kemenangan

Kugenggam erat impianku, masa depan dan masa lalu

Tubuhku dari bumi

Jiwaku dari langit

Kuhempas laut luas dalam tangisku

Tubuhku rela menyerah, tapi…

Jiwaku tiada usai

Apapun ku bisa

Aku hanya harus mencoba.

Air Mataku, Sobat…

•Mei 8, 2007 • 2 Komentar

Kutahan napasku, Kurasakan setitik air mata bergulir menuruni pipiku dan lebih banyak lagi. Aku mulai terisak menarik napas, lututku terasa lemas dan mulai tak sadarkan diri.

Teringat empat hari yang lalu, aku menyesal tak menemuimu dihari Senin, aku menyesal tak menghiraukanmu dihari Selasa, aku menyesal tak mendengarkan ceritamu dihari Rabu, dan aku menyesal tak bersamamu dihari Kamis. Aku duduk sendirian, menatapmu, takpercaya pada mataku. Air mata terus turun membasahi jilbab putihku. Apakah kenyataan ini yang membuat aku terpukul? Sudah seminggu aku menangis dalam pelukan boneka pemberianmu dan merasa seolah-olah aku tak punya apa-apa lagi. Aku merasa tak berdaya, aku merasa hampa, namun kepedihan temanmu ini sama sekali tak dapat ditutupi. Aku juga menyangkalnya dan menganggapnya mimpi buruk, sampai aku melihat jasadmu terbaring berbalut kain putih.

Air mata bercucuran tetes demi tetes. Luapan air mata yang berderai dari hati ini adalah satu-satunya yang dapat kuungkapkan dibalik setiap kalimat doaku. Aku belajar untuk menerima air mata ini. Aku merasa bahwa jika sesuatu bisa membuat menangis seperti ini, jika sesuatu sampai membuat hati begitu pedih pasti ada pelajaran disini. Ada sesuatu yang mengerikan dan sekaligus menyakitkan serta tak bisa dipahami dalam kematian seorang anak. Aku yakin tak ada satupun anak berusia 17th yang bisa menerimakenyataan mengenaikematian sobat mereka, ketika mereka baru saja diberi hak untuk tumbuh dewasa. Sementara aku meneruskan sedu sedan, aku mulai sadar bahwa aku menangis karena aku tidak mengerti, aku menangis karena aku takut hidup tanpa teman. Aku juga menangis karena takut terhadap kefanaanku sendiri. Aku tak mau sendiri sobat..dan bukan begini caranya kau menyimpan rahasia kita dibawah kartu AS, ini benar-benar tidak lucu.

Lelaki yang Kuat

•Mei 8, 2007 • 2 Komentar

Ingatan-ingatanku adalah tentang seorang pria yang kuat, wajahnya kasar, namun hatinya sangat lembut, penuh perhatian dan penyayang. Aku masih ingat bagaimana licin rambutnya yang hitam tipis bergelombang dan seperti apakah aromanya ketika dia memelukku. Aku ingat dia mengajariku cara menghitung matematika yang benar atau bagaimana cara melukis. Aku ingat dulu dialah orangtua yang berteriak bangga ketika aku pertamakali berhasil memperoleh rangking satu. Aku ingat perjalanan keluarga kami dan bagaimana aku, mamaku, dan kakakku selalu tertawa kalau dia mendengkur keras saat tidur.

Aku masih ingat bagaimana rupanya pada tanggal 14 Juni 2001, begitu tenang seolah-olah ia sedang tidur, hanya saja dia tidak lagi mendengkur. Rambut tipisnya terlihat rapi, dia terlihat tampan, dan bau aroma yang menenangkan dan familier saat itu dikalahkan oleh bau minyak serimpi dan kamper yang menusuk itu. Selembar kain jarik ditarik sampai keatas, dan segumpal senyum kecil yang kutatap darinya. Mamaku menangis dan menciumminya, kakakku mengepalkan tinjunya erat-erat dan menunduk bingung. Aku dikelilingi oleh keluarga, namun merasa kesepian. Aku merasa semua mata memandangku, menunggu reaksiku, karena aku memang gadis manja kesayangan ia. Aku berlari dari teras depan rumah sementara duniaku jatuh menghantam diriku.

Sejuta pikiran melintas benakku. Aku tetep menunggu seseorang membangunkanku dari mimpi buruk ini, namun tak ada yang datang. Ayahku dimakamkan hari itu juga, ia meninggal karena kanker yang menggerogoti sel tubuhnya. Terkadang kukira aku melihat wajahnya atau mendengar suaranya dikeramaian..Jantungku berdebar semakin cepat dan aku menoleh ke arahnya, tapi tak pernah orang itu adalah dirinya. Dia pria yang kuat, kreatif dan penuh ide. Aku memanggilnya kamus berjalan. Ayahku itu, wajahnya kasar, fanatik, namun hatinya lembut penuh cinta.

Es tape Ketan ireNg

•Mei 4, 2007 • 2 Komentar

Renang dUbalan Pacet brm..dingin..,tapi abis renang perut laper pengen nyami, Aduh mba’ futuh nih paling g’ bisa klo laper. Klo kmana-mana yang dCari satu yang mantap n bs Njanggel perut. Nah dPacet nih yang slalu futuh cari’ itu es Tape KeTan Ireng, apalagi klo maemnya abiZ renang rasanya wuih..SkeCo bu..karena satu-satunya yang mantap n murah ya cuman es tape ketan ireng, mo maem..wah..g sanggup coz maeman dsana mahal choy.

btw klo yu kPacet jangan lupa mampir dUbalan ddkt sana ada sungai yang namanya kali ngrame, tenang tempatnya g rame kok tapi lumayan untuk dkunjungi, yu bsa mancing, obok2 ya sesuka yu lah..

Pengen bawa’ buah tangan buat orang rumah, ya beli aja mlinjo tapi bukan krupuk mlinjo lo ya.. biji mlinjo yang udah mateng, bentuknya lucu warna-warni.

Met jalan2 kuliner lovers… :)

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.